Archive for December, 2008

Hari Ibu, baikkah?

Tanggal 22 Desember, siapa sih yang gak tahu itu hari apa, anak kecil ja tahu. Hari Senin kan,… (glubrakz…)bukan, bukan itu maksudnya, itu sich jawaban anak kecil yang masih lugu dan polos,, ehm… tepatnya kita kenal dengan apa yang disebut sebagai HARI IBU, ooo……. begitu, lantas apa yang menarik dari hari ibu itu ya? Yap, itulah yang akan kita bahas kali ini. Umumnya pada tanggal 22 Desember kita menganggap hari tersebut adalah istimewa dan kita memperlakukan ibu-ibu kita dengan perlakuan yang beda dari biasanya (ih… jahat banget ya? Bukannya Rosululloh SAW mengajarkan kita untuk berbuat baik ma ibu setiap saat??). Tapi itulah realita yang ada saat ini, entah itu ajaran dari mana dan siapa yang mengajarkannya.

 

Bolehkah kita merayakannya?

 

Untuk pertanyaan tersebut ane dapat penjelasan dari KOPASUS–(artinya copyàpaste, tanpa kasus)he..–  situs ponpes Al Islam Bekasi (http://www.alislamu.com/), berikut kita simak:

 

Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin

 

Setiap hari raya yang bertentangan dengan hari raya yang disyariatkan adalah bid’ah dan tidak dikenal pada masa salafushalih. Mungkin juga pencetusnya bukan kaum muslimin, sehingga di dalamnya ada bid’ah menyerupai musuh-musuh Allah. Hari raya-hari raya yang disyariatkan sangat dikenal oleh pemeluk Islam, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha, serta Idul Usbu’ (hari Jum’at). Dalam Islam tidak ada hari raya lain selain tiga hari raya tersebut, maka setiap hari raya yang diadakan di luar tiga hari raya itu ditolak, bid’ah dan batil menurut syariat Allah, karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang mengadakan sesuatu yang baru dalam urusan (ibadah) kami yang bukan daripadanya (Nabi) maka ia tertolak.” (HR Muttafaqun alaihi). (Ditakhrij oleh Al-Bukhari dalam kitab Al-Ilm, bab “idza Ishthalahu ‘Ala Shalhi Juurin, fa Ash-Shalhu Mardudun”, (1297); dan Muslim dalam kitab Al-Uqdhiyyah, bab “Naqdhi Al-Ahkam Al-Baathilah”, (1718) (17).

 

Dalam hadits lain disebutkan, “Barangsiapa yang melakukan suatu amal yang tidak Kami perintahkan maka dengan sendirinya ia akan tertolak.” (HR. Bukhari, Muslim).

 

Dengan demikian, tidak boleh hukumny pada hari raya yang disebutkan penanya yang dikenal dengan hari ibu itu untuk membuat syi’ar-syi’ar hari raya, seperti menampakkan kegembiraan dan kebahagiaan, memberikan hadiah dan sebagainya. Setiap orang Islah harus bangga dengan agamanya dan membatasi diri pada apa yang ditetapkan Allah dan Rasul-Nya dalam agama yang lurus dan diridhoi Allah bagi hamba-hamba-Nya, tidak menambah dan mengurangi. Yang juga harus dilakukan seorang muslim adalah supaya tidak ikut-ikutan dengan trend atau gebyar yang ada, tetapi dia harus membentuk kepribadiannya sendiri sesuai dengan tuntutan syariah Allah, hingga dia menjadi orang yang diikuti bukan pengikut, menjadi teladan bukan yang bukan berteladan, karena syariat Allah adalah sempurna dilihat dari segala aspeknya seperi yang difirmankan Allah, “Pada hari ini Aku telah sempurnakan agamamu dan aku sempurnakan nikmat-Ku atasmu dan Aku ridha Islam menjadi agamamu.” (Al-Maidah: 3).

 

Untuk menghormati ibu tidak hanya diperlukan sehari saja dalam setahun, tetapi dia harus selalu dihormati, dipelihara, diperhatikan, dan ditaati perintahnya oleh anak-anaknya, selama tidak untuk bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala di sepanjang zaman dan di segala tempat.

 

Sumber: Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin, Fatawa arkaanil Islam atau Tuntunan Tanya Jawab Akidah, Shalat, Zakat, Puasa, dan Haji, terj. Munirul Abidin, M.Ag. (Darul Falah 1426 H.), hlm. 183 - 184.

 

Hoi…. gimana? Jangan bengong dong, nanti digigit sapi ompong lho!! (izzah says “manaa.. aada?”)he..

 

Mudah-mudahan kita dapat memahami dan segera instrospeksi pada diri kita, bagaimanakah ibu kita,kita perlakukan apakah sudah sesuai dengan standar Islam (SI) pa belum? Jika belum ya segera berubah (tapi bukan jadi ksatria baja hitam lho!)…. kalo bingung gimana caranya ya segera hubungi ustadz terdekat, ikut ta’lim dan senantiasa mohon petunjuk Alloh SWT, insya Alloh bisa, key……

No comment »

kebanjiran emang gak enak!!

Hujan deras mengguyur Tembalang Selasa lalu, saat itu tepat sebelum waktu dzuhur tiba.  Karena dari pagi belum mandi (he…. jangan kaget!) maka aku segera menuju kamar mandi dan byar…. byur…..

Adzan dzuhur sudah berkumandang tapi hujan belum juga reda, akhirnya kami (aku + bolokurowo,eh… pendowo ding!he…) berjamaah di rumah kontrakan (gak mungkin lah kalo dipaksain ke masjid)… sehabis sholat hujan mulai reda, kali ini hanya hujan rintik2, tapi… MASYAALLOH… bbb…bb.aannjir……!! (Cuma di jalan depan rumah kontrakan) Subhanalloh… baru kali ini aku melihat banjir di depan mata, yah… maklum lah daerah rumah asli ku bukan daerah banjir, bahkan dulu waktu kecil aku sering berandai2 kalo rumah ku kebanjiran cz sering dapet cerita dari teman2ku yang pada kebanjiran. (wah… kayaknya asyik ya!!he…).

Akhirnya keinginan itu tercapai juga meski kali ini Cuma di rumah kontrakan, sambil payungan aku jalan2 mendekati area banjir tsb sambil ceprat… cpret… mengambil gambar layaknya wartawan. (gambarnya nanti boleh dilihat koq)..

Setelah agak puas aku segera kembali ke kamar untuk mengabarkan keadaan terbaru pada teman2ku, belum juga selesai bicara e….. tau2 air dah mulai masuk lewat sela2 pintu belakang serta dari lubang pembuangan air di kamar mandi (**tuing-tuing….), jadi panik neeh…. (uhhh….ternyata kebanjiran itu bener2 gak da enaknya sama sekali..). akhirnya dengan keterbatasan dana, eh.. tenaga maka segera ku angkat barang2 ke tempat yang lebih tinggi sambil tetep pake masker (bau gak enak!!)…..

Alhamdulillah kejadian itu gak berlangsung lama, kira2 mendekati jam stengah 2, air pun berangsur-angsur surut, ah… lega….., dan satu pengalaman yang berharga, ternyata kebanjiran itu gak enak, pa lagi pas di rumah sepi (sibuk sendiri,hiks….. L)….

Ni aku up load-in foto2nya….

 

O ya… jangan lupa salurkan bantuan Anda untuk korban bencana “perdana” banjir, caranya tinggal ketik BANJIR JENIS BANTUAN kirim ke: MANA SAJA!!

He… kebanjiran emang gak enak!

 

 

 

No comment »

Haree gini masih pacaran???

Sori, dengan judul seperti ini bukannya mau ngeledekin kamu-kamu yang pacaran, tapi cuma mau menertawakan kamu-kamu yang pacaran. Lho, sama aja atuh ya? Jangan bingung begitu deh, karena memang itulah faktanya. Pacaran, adalah aktivitas yang udah kuno. Mungkin bukan saja kuno, tapi sekaligus NORAK. Bener lho.

Kenapa sih? Islam, sebagai agama ‘modern’ dan mencerahkan pemikiran, selalu memberikan yang terbaik untuk pemeluknya. Misalnya saja, di jaman purbakala, saat manusia terbiasa buligir, alias kagak make sehelai benang pun untuk menutupi tubuhnya, Islam datang menyempurnakan aturan manusia dalam berpakaian. Jilbab salah satunya, adalah ajaran Islam yang memberikan kehormatan kepada kaum wanita dalam berpakaian. Jadi, kalo sekarang masih ada anak puteri yang kagak pake jilbab, itu artinya masih ‘kagum’ dengan kebudayaannya Homo Soloensis dan Pythecantropus Erectus yang masih primitif, alias kuno. Gubrag! (yang tersinggung dilarang bangga) ?

Lha, pacaran apa hubungannya dengan kuno dan modern? Sabar dulu bro,. Begini, sebelum Islam datang sebagai agama penyempurna bagi kehidupan manusia, kehidupan di masa jahiliyah dulu rusak banget. Salah satunya dalam pergaulan. Mungkin, kalo kita mau kejam, seperti dunia binatang. Kok bisa sih? Iya, soalnya hubungan antara pria dan wanita di masa jahiliyah dulu kagak ada aturannya. Main seruduk, main selonong sana selonong sini. Suka-suka aja gitu lho. Waduh!

Cuy…, itulah sebabnya kenapa kita bilang bahwa pacaran adalah aktivitas kuno dan sekaligus norak. Lihat saja model gaul anak muda sekarang (termasuk paling banyak di antaranya adalah remaja muslim) makin tak terkendali alias liar banget. Kata seorang teman, remaja sekarang dalam bergaul dengan lawan jenisnya menggunakan prinsip 3T; ta’aruf (saling mengenal), taqarrub (saling mendekat), dan tak tubruk (terjemahkan dan tafsirkan sendiri deh, he..he..he..). mentang-mentang saling cinta dan saling sayang, lalu merasa halal aja main elus, main peluk, main tendang, main cekik, dan main banting (smackdown kali yee…? He..he..he..) Jadi, pacaran memang aktivitas yang deket-deket banget dengan z-i-n-a. Naudzubillahi min dzalik!

Benar banget bro!, kita ngeri deh dengan perkembangan gaul remaja sekarang. Remaja yang awam memang paling banyak melakukan aktivitas baku syahwat yang diharamkan Islam ini, but nggak sedikit yang ngakunya anak masjid juga jadi aktivis pacaran. Wackss… kacau-beliau dong? Begitulah…

Hmm…, kamu yang masih pacaran dan lagi seneng-senengnya bermesraan bareng gandengan kamu, pastinya bakalan sutris baca tulisan ini. Mungkin juga tuh sumpah serapah bakalan keluar dalam mulut kamu. Tapi inget sobat, justru lebih parah kalo kagak ada yang mau susah payah ngingetin kita-kita. Sebab, sebagai manusia kita selalu nggak lepas dari kesalahan. Di sinilah perlunya kita saling menasihati dan ngingetin satu sama lain. Tul nggak? Jadi, jangan marah ya kalo ada yang ngingetin kamu, meski dengan sindiran.

Kenapa sih pada pengen pacaran?

Bener. Kenapa sih kamu-kamu pada pengen ngelakuin pacaran? Apa enaknya pacaran? He..he..he.. jangan bingung dulu Mas, kita coba bantu ngasih bocorannya. Ada beberapa alasan yang bisa kita telusuri di balik maraknya aktivitas ilegal dalam ajaran Islam ini:

Pertama, biar disebut dewasa. Banyak teman remaja yang melakukan pacaran, biar disebut udah dewasa. Maklum aja, aktivitas baku syahwat itu kayaknya ganjil banget kalo dilakukan oleh bocah cilik. Selain ganjil, anak kecil nggak pantes ngelakuin pacaran.

Sobat muda, secara biologis boleh jadi kamu dewasa. Kamu yang cowok udah mimpi basah, tubuhmu udah mulai memproduksi sel sperma, suaramu pun udah berubah jadi berat, udah tumbuh rambut di sana-sini, jakunmu pun mulai kelihatan. Kamu yang puteri, sudah mulai haidh, tubuhmu udah memproduki sel telur, beberapa bagian tubuh mengalami pertumbuhan pesat. Itu secara fisik. Dan itu nggak salah kamu disebut dewasa.

Tapi, ukuran dewasa nggak selalu ditentukan dengan perubahan fisikmu, tapi ditentukan pula dengan cara kamu berpikir dan cara kamu bersikap. Nah, dewasa dalam berpikir dan bersikap harus kamu miliki juga dong. Sebab, banyak orang mengaku udah dewasa, tapi ternyata nggak bisa atau belum bisa berpikir dewasa. Seperti apa sih berpikir dewasa? Kamu berani bertanggung jawab dan bisa menentukan masa depan kamu sendiri. Dengan cara yang benar tentunya. Itu baru dewasa.

Itu sebabnya, kalo kamu menganggap bahwa untuk bisa dikatakan udah dewasa adalah dengan melakukan pacaran, berarti kamu sebetulnya belum bisa dikatakan dewasa, terutama dalam berpikir dan bersikap. Why? Sebab, aktivitas pacaran jelas mendekati zina. Dan itu dosa. Jika kamu masih tetap melakukannya, itu artinya kamu belum tahu arti sebuah kedewasaan. Padahal, orang yang berpikir dan bersikap dewasa, akan lebih hati-hati dalam menjalani kehidupan ini. Nggak asal jalan aja. Tapi penuh perhitungan, bila perlu mengkalkulasi untung-rugi dari sebuah perbuatan yang kamu lakukan. Sebab, itulah yang namanya bertanggungjawab. Lha, yang pacaran? Rata-rata cuma seneng-seneng aja tuh. Berarti nggak punya prinsip dong? Berarti belum dewasa dong? Tepat. Kejam amat ya? ?

Kedua, having fun. Walah, ini juga asal-asalan. Tapi inilah kenyataan yang kudu kita hadapi. Banyak teman remaja yang mengaku bahwa alasan melakukan pacaran sekadar having fun aja. Sekadar bersenang-senang. Nggak punya alasan lain. Barangkali teman remaja yang begitu menganggap bahwa pacaran sekadar hiburan di masa sulit dan obat stres saat menghadapi persoalan hidup.

Bisa jadi, teman-teman remaja yang nggak mendapatkan kasih sayang di rumah, karena kebetulan orangtuanya jarang di rumah, ia nyari kesenangan di luar. Bisa dengan kekasihnya (baca: pacaran), bisa juga lari ke minuman keras dan narkoba. Di rumah sumpek, maka pelampiasan untuk mencari kesenangannya lewat pacaran. Pacaran sering diyakini sebagai obat mujarab untuk menghilangkan stres. Gimana nggak senang, wong, jalan berdua, mojok berdua, bisa curhat, bisa menikmati hidup ini dengan nyaman dan tenang.

Benarkah pacaran selalu memberikan kesenangan? Ternyata nggak tuh. Banyak pasangan yang pacaran justru cek-cok melulu. Belum lagi kalo beda ambisi. Maklum masih pada muda, emosinya masih meletup-letup. Jadi, gimana mau senang-senang jika tiap hari ‘panas’ melulu. Nggak banyak sih yang begitu, tapi tetap, bahwa alasan berpacaran semata untuk having fun, juga nggak dibenarkan. Baik secara hitung-hitungan logika, apalagi hukum syara.

Ketiga, pacar sebagai motivator dan katalisator. Duh, emangnya pacaran sejenis suplemen, pake menambah semangat segala? Tapi itulah yang terjadi. Alasan yang asal-asalan memang. Namun inilah yang juga banyak diakui teman remaja. Ada yang ngedadak jadi getol dateng ke sekolah en rajin belajar. Rela datang lebih awal ke sekolah. Tujuannya, biar bisa berlama-lama dengan sang gacoan. Maklum, kalo di sekolah sang gebetan ada, rasanya muncul semangat untuk belajar. Ah, yang benar nih? Jangan ngigau begitu, ah!

Benarkah pacaran bisa tambah semangat belajar? Naga-naganya sih alasan itu cuma direkayasa. Coba aja kamu pikirin, gimana bisa belajar jadi getol kalo di sekolah aja yang diingetin cuma kekasihnya. Boleh jadi pelajaran yang diikuti di kelas memantul sempurna, karena otaknya udah full dengan memori tentang sang kekasih hati. Lagi pula, yang berhasil jadi juara kelas or juara umum di sekolah bukan karena mereka pacaran. Kalo memang pacaran nambah semangat untuk belajar, harusnya semua yang pacaran tambah pinter, karena belajar terus. Buktinya? Justru yang pacaran selalu bermasalah dalam belajarnya.

Memang sih ada satu-dua yang pacaran tapi prestasinya tetep bagus. Tapi itu bukan jadi alasan lho untuk kamu teladani. Sebab, puluhan, atau mungkin ratusan remaja yang pacaran, justru prestasi akademiknya jeblok. Yang pinter itu pun, karena emang otaknya tokcer banget. Selain memang mereka nggak nafsu-nafsu amat untuk pacaran. Karena doi biasanya lebih mementingkan belajar. Nah lho?

Jadi, emang nggak ada pengaruh secara signifikan sih antara pacaran dan prestasi belajar. Nggak ada. Itu mah, cuma alasan klise alias dibuat-buat aja untuk melegalkan ajang baku syahwat yang dilarang itu. Tapi sejujurnya, pendapat kita neh, yang udah-udah, makin kuat pacarannya, biasanya malah makin malas belajarnya. Ngaku aja deh. (Idih kayak interogasi aja ya? He…he…he..)

Tapi terlepas dari itu semua, entah pacaran itu bisa menumbuhkan semangat belajar atau malah memadamkan semangat belajar, tetep aja perbuatan tersebut haram untuk dilakukan. Karena ukuran manfaat dan mafsadat (keburukan) bukan dinilai oleh kita. Kita, kaum muslim, diajarkan untuk melakukan perbuatan yang ihsan. Jadi, bukan yang terbanyak amalnya yang akan dinilai oleh Allah, tetapi yang terbaik amalnya. Baik niat maupun caranya. Dua-duanya kudu sesuai dengan aturan Allah dan Rasul-Nya. Firman Allah Swt.: “…supaya Dia menguji kalian siapa di antara kalian yang lebih baik amalnya.” (TQS al-Mulk [67] : 2)

Seorang ulama yang hidup di masa Abdul Malik bin Marwan, Sa’id bin Jubair, pernah mengatakan: “Tidak diterima suatu perkataan kecuali disertai amal, tidak akan diterima perkataan dan amal kecuali disertai niat, dan tidak akan diterima perkataan, amal dan niat kecuali disesuaikan dengan sunnah Nabi saw.”

Saking pentingnya ihsan dalam beramal ini, Imam Malik mengatakan: “Sunnah Rasulullah saw itu ibarat perahu nabi Nuh. Siapa yang menumpanginya ia akan selamat; sedangkan yang tidak, akan tenggelam.”

Nah, meskipun niatnya bagus untuk menambah semangat belajar (mungkin ikhlas karena Allah), tapi pacaran adalah perbuatan maksiat. Jadi nggak klop tuh. Nah lho?

Menertawakan pacaran

Bro, kalo melihat teman-teman kita yang pacaran, kita suka geli dan lucu lho. Kita tertawa. Bener. Abisnya, teman remaja yang aktivis berat pacaran adalah tipe manusia yang suka ngakalin gitu lho. Sebab, alasan-alasan utama mereka berpacaran justru semuanya klise. Intinya, semua itu cuma direkayasa untuk melegalkan aktivitas baku syahwat terlarang itu. Bener. Kagak bohong!

Oke deh, singkat kata, bagi kamu yang masih aktif pacaran, segera melakukan pembenahan; putusin aja pacar kamu. Pelajari Islam. Yakinlah, Allah pasti akan memberikan yang terbaik buat kamu. Nggak usah ragu, jodoh di tangan Allah, bukan di tangan hansip (maksudnya kalo kamu kepergok lagi “begituan” sama hansip, he..he..he..).

Bagi kamu yang belum terjun ke dalam aktivitas ini, hindari segala peluang yang bakal menyeret kamu ke dalam pergaulan bebas ini. Pelajari Islam, sering hadir di majlis taklim, pengajian sekolah dan bertemanlah dengan anak-anak sholeh di sekolah dan lingkungan tempat tinggalmu. Insya Allah itu bakal meredam keinginan kamu terhadap aktivitas gaul bebas yang emang berbahaya dan dosa itu.

Firman Allah Swt: “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS an-Nûr [24]: 30).

Sobat, pacaran adalah salah satu pemenuhan yang salah dari naluri mempertahankan jenis. Sebab, pemenuhan dan penyaluran yang sah menurut Islam adalah dengan menikah. Sabda Rasulullah saw.: “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kamu memiliki kemampuan untuk menikah, maka nikahlah, sebab nikah itu dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan; tetapi barangsiapa belum mampu, maka hendaknya ia berpuasa, sebab puasa itu baginya merupakan pelindung” (HR Bukhari)

Jadi, jangan pada nekat pacaran ya? Pacaran itu nggak ada manfaatnya sama sekali. Kalo pun mungkin ada ‘manfaat’, tapi itu biasanya cuma diukur dengan penilaian hawa nafsu kita, bukan berdasarkan aturan Allah Swt. Kalo kamu nekat pacaran? Huahaha… udah kuno, norak, dosa lagi. Amit-amit deh. Tinggalin ya..!?

 

 

Comments (1) »

Idul Adha 1429 H

Agar Idul Adha gak sekedar sholat ied, nggak juga sekedar potong kambing trus nyate bareng teman atau keluarga, tapi mari kita ingat sejenak sejarah nabiyulloh Ibrahim AS.  Beliau adalah sosok orang yang begitu hanif dalam mentaati setiap perintah rab nya.  Meskipun perintah yang diberikan terasa begitu berat namun beliau tetap menjalankannya karena beliau tahu bahwa itu adalah perintah rab nya, Dialah yang menguasai segala apa yang ada di langit dan dibumi beserta apa yang ada di antara keduanya.

 

Sekarang tengoklah diri kita—umat yang kualitas keimanannya belum diakui sebagaimana para nabi, rosul, serta para salafus shalih—betapa sombongnya kita, senantiasa mengelak dari perintah rab kita yang sekiranya itu memberatkan dan dinilai tidak bermanfaat bagi diri kita. Sadar??

Wanita diperintahkan menutup auratnya…….. banyak yang menolak

Diperintah untuk menundukkan pandangan……… banyak yang membiarkan nya

 

Hingga pada hukum-hukum yang Alloh SWT berikan pun masih kita perdebatkan, dirapatkan, dimusyawarahkan, atau melalui pengesahan dewan yang menggunakan cara2 voting (suara terbanyak).  Sadar ataupun tidak, ini adalah suatu bentuk pelecehan kita terhadap Alloh dzat Yang Maha Sempurna.  Dengan cara2 seperti itu seolah2 Alloh bukanlah Yang Maha Sempurna sehingga peraturan atau hukum-hukumNya perlu dibahas lagi, tidak sebagaimana para pendahulu kita (Rosululloh SAW, para shahabat dan salafusshalih) mereka hanya “sami’na wa atho’na” , ketika mendengar itu perintah Alloh dan Rosul Nya maka dengan tunduk mereka melaksanakannya tanpa berani mendebatnya apalagi meng-amandemen-nya sebagaimana yang terjadi hari ini.

 

Untuk itu, ayo tanam kan pada diri kita untuk menyerahkan segala urusan Islam dan hukum2nya kembali kepada Alloh SWT sebagaimana yang diperintahkan melalui Al Quran dan Sunnah…..

 

Wahai saudaraku, bangkitlah….

Sambutlah Idul Adha kali ini dengan takbir yang tidak hanya di bibir saja,

Tetapi benar2 kita memahami makna dari ALLOHU AKBAR itu, bahwa Alloh lah Yang Maha Besar.  Itu berarti selain Alloh, adalah mahluk kecil yang tidak mempunyai kekuatan apapun di sisiNya.

 

ALLOHU AKBAR …… 2x

LA ILAHA ILLALLOHU… ALLOHU AKBAR

ALLOHU AKBAR WA LILLAHILHAMDU…

No comment »

cuapek dech….

pagi tadi ceritanya aku kan habis ta’lim, pulang naek motor nggak pake helm (cuma pakai peci combat), nah pas di pertigaan “barokah”–kalo kami biasa menyebutnya– aku liat di bawah jembatan tol ada razia polisi  wow razia… asyik nih, pikirku. aku belok kiri aja bwt ngindarin tu polisi

e… ternyata malah kayak “ulo marani gebuk”, ada polisi lagi di depanku, gimana ya?? mau berbalik arah ketahuan banget, akhirnya aku pasrah ja jalannya pelan2 sambil merogoh kantong (lumayan bawa uang,pikirku)…

priiiit….priiiit… polisi di kanan jalan meniup peluitnya sembari menunjuk wajahku, aku pun hendak berhenti, tapi… tunggu dulu, polisi yang berada di kiri jalan (depanku) malah sedang lengah, y wes ku pakai jurus ke 37 nya bo bo ho. (apa itu??)

KABUR, SON…!!!!

aku segera tancap gas dan meluncur kembali ke kost2an.

hore…. MERDEKA neh!!!

ha…. uang pun kembali utuh

“nggak jadi kondangan pagi2″he….

Comments (1) »